Bank Syariah

Dipublikasikan oleh admin pada

Sejarah Bank Syariah

Dalam bank konvensional penentuan harga selalu berdasarkan pada bunga, sedangkan bank syariah didasarkan  kepada konsep islam, yaitu kerjasama dalam skema bagi hasil, baik untung maupun rugi.

Sejarah, awal mula kegiatan bank syariah yang pertama kali dilakukan adalah di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an. Kemudian di Mesir pada tahun 1963 berdiri islamic Rural Bank didesa It Ghamr . Bank ini beroperasi di pedeasaan Mesir dan masih berskala kecil.

Di Spurs tahun 1983 berdiri Financial Islamic Bak of Kibris. Kemudian di Malaysia Bank syariah lahir tahun 1983 dengan berdirinya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dan pada tahun 1999 lahir pula Bank Bumi Putera Muamalah

Di Iran sistem perbankan syariah mulai berlaku secara nasional pada tahun 1983  sejak dikeluarkannya Undang – undang Perbankan Islam. Kemudian di Turki negara yang berideologi  sekuler Bank syariah lahir tahun 1984 yaitu dengan lahirnya Daar al-Maal al-Islam serta Faisal Finance Institution dan mulai beroperasi tahun 1985.

Salah satu pelopor utama dalam melaksanakan sistem perbankan syariah secara nasional adalah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonversi seluruh sitem perbankan syariah. Sebelumnya tahun 1979 beberapa institusi keuangan terbesar di Pakistan telah menghapus sistem bunga dan mulai tahun itu juga pemerintah pakistan mensosialisasikan pinjaman tanpa bunga , terutama kepada petani dan nelayan.

Kehadiran bank yang berdasarkan syariah di Indonesia masih tergolong baru, yaitu baru pada awal tahun 1990-an, meski masyarakat Indonesia merupakan masyarakat muslim terbesar di dunia. Prakarsa untuk mendirikan Bank Syariah di Indonesia dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 18-20 agustus 1990. Namun, diskusi tentang Bank Syariah sebagai basis ekonomi Islam sudah mulai dilakukan pada awal tahun 1980.

Bank syariah pertama di indonesia merupakan hasil kerja tim perbankan MUI, yaitu dengan dibentuknya  PT Bank Muamalat Indonesia 1991. Bank ini ternyata berkembang dengan pesat sehingga saat ini BMI sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Makasar, dan kota lainnya.

Pengertian bank syariah

Bank syariah adalah pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah) prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan ( murabahah) atau pembiayaan  barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina)

Produk bank syariah

Sama seperti hanya dengan bank konvensional, Bank Syariah juga menawarkan beragam produk, hanya saja bedanya dengan bank konvensional adalah dalam penentuan harga, baik terhadap harga jual maupun harga belinya. Produk-produk yang ditawarkan sudah tentu sangat islami, termasuk dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.

  1. Al-wadi’ah (simpanan)

Al-wadi’ah merupakan titipan simpanan pada Bank Syariah. Prinsip Al-wadi’ah merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja bila si penitip menghendakinya.

Penerima simpanan disebut yad al-amanah yang artinya tangan yang amanah. Si penyimpan tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan  dan kerusakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan.

Akan tetapi, dewasa ini agar uang yang dititipkan tidak mengganggur begitu saja, oleh si penyimpan uang titipan tersebut (Bank Syariah) digunakan untuk kegiatan prekonomian. Tentu saja penggunaan uang titipan harus terlebih dahulu meminta izin kepada sipemilik uang dan dengan catatan si pengguna uang menjamin akan mengembalikan uang tersebut secara utuh.

Dengan demikian, prinsip yad al-amanah (tangan yang amanah) menjadi yad adh-dhamanah (tangan penanggung). Mengacu pada prinsip yad adh-dhamanah bank sebagai penerima dana dapat dimanfaatkan dana titipan seperti simpanan giro dan tabungan, dan deposito berjangka untuk dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat dan kepentingan negara. Yang terpenting dalam hal ini  si penyimpan bertanggung jawab segala kehilangan dan kerusakan yang menimpa uang tersebut.

Kategori: pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *