Fiksi

Dipublikasikan oleh admin pada

Karya satra sendiri terbagi menjadi dua yakni karya sastra nonfiksi dan fiksi. Karya sastra nonfiksi merupakan karya sastra yang ditulis berdasarkan hasil kajian keilmuan serta pengalaman. Sedangkan karya sastra fiksi merupakan cerita rekaan atau cerita khayalan. Maka karya fiksi ialah suatu karya naratif yang tidak bisa dijadikan sebagai kebenaran sejarah.

Pengertian Fiksi

Fiksi merupakan suatu cerita atau latar yang berasal dari imajinasi. Selain itu fiksi tidak bisa berdasarkan sejarah atau fakta. Fiksi dapat diekspresikan untuk beragam format mulai dari tulisan, untuk pertunjukan langsung, film, permainan video, acara televisi, animasi, dan juga permainan peran.

ciri ciri cerita fiksi
Cerita fiksi adalah cerita rekaan yang dilatarbelakangi dari imajinasi sipenulis.

Sebagai suatu karya imajiner, fiksi memberikan berbagai problematika manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang biasanya mendalami berbagai permasalahan dengan bersungguh-sungguh yang selanjutnya diaplikasikan melalui sarana fiksi yang sesuai dengan apa yang dipandangnya.

Walaupun pada awalnya kata fiksi lebih sering digunakan dalam karya sastra naratif seperti dalam novel,, sandiwara maupun cerita pendek, Namun secara umum, fiksi dapat digunakan dalam arti sempit untuk segala narasi sastra. Selain dari pengertian tersebut, istilah fiksi juga banyak diartikan oleh ahli diantaranya sebagai berikut:

Pengertian Fiksi Menurut Para Ahli

  • Semi (2008:76), fiksi ialah jenis narasi literer yang berupa cerita rekaan. Fiksi adalah cerita rekaan karena yang diceritakan merupakan peristiwa kehidupan hasil rekaan pengarang yang kenyataannya tidak terlalu dipersoalkan. Apabila seorang pengarang menulis karya sastra dan bertolak dari kehidupan sehari-hari, maka pembaca tidak dapat menemui peristiwa itu persis sama dengan yang diceritakan pengarang.

  • Krismarsanti (2009: 1), fiksi merupakan karangan yang berupa kisahan atau cerita yang diceritakan berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarang. Fiksi berusaha mengoyak perasaan atau menggugah emosi pembaca melalui kata-kata yang digunakan serta pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang.

  • Thani Ahmad, Fiksi atau cerita rekaan merupakan sebuah tulisan naratif yang muncul dari imajinasi pengarang dan tidak mempertimbangkan segi fakta sejarah.

  • Nurgiantoro, Fiksi merupakan suatu prosa naratif yang mengandung sifat imajinatif. Namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan antar manusia.

Dari berbagai pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa cerita fiksi merupakan cerita yang dibuat, cerita yang dibentuk, cerita yang dikarang, atau cerita yang diciptakan. Jadi, lahirnya cerita fiksi ialah karena sengaja direka-reka atau dikarang-karang.

Ciri-ciri Fiksi

Fiksi merupakan cerita mengenai kehidupan manusia yang sifatnya fiktif karena hanya berupa rekaan pengarang. Gaya penceritaan pengarang sifatnya tidak homogen, pengarang atau pencerita tidak wajib yang bertutur, tetapi memberikan kesempatan kepada penutur sekunder agar dapat bercerita sehingga menghasilkan dialog.

Cerita yang dibuat dalam fiksi berupa cerita fiktif, apabila terdapat kesamaan dengan realita, maka hal itu hanya kebetulan saja. Fiksi biasanya disajikan dengan urutan kronologis agar menggambarkan konflik dan menimbulkan rasa ingin tahu pembaca.

Selain yang telah diuraikan di atas, Menurut Semi (2008:77-78), karya fiksi memiliki aspek atau ciri diantaranya:

  • Ada unsur cerita.
  • Situasi bahasanya tidak homogeny.
  • Terdapat peristiwa yang diceritakan.
  • Susunan peristiwa disusun secara kronologis

Selain Semi, Fiksi yang merupakan bagian dari karya sastra, menurut Luxemburg (1984) memiliki ciri-ciri diantaranya pragmatik, sintaksis, dan semantik. Secara pragmatik ialah menyangkut perbuatan, ungkapan bahasa pembicara mengenai konteks sosial tertentu dalam satu kesatuan. Secara sintaksis, ialah unsur-unsur bahasa yang digunakan untuk menggambarkan suatu pertautan. Secara semantik ialah tema yang berfungsi untuk merumuskan makna simbolik dari unsur-unsur bahasa teks, temanya bisa implisit atau eksplisit.

Fungsi

Karya fiksi dibuat agar pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita yang disajikan oleh pengarang. Tokoh yang mengalami suatu masalah dan cara tokoh menyelesaikan permasalahan dalam cerita fiksi dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi pembaca dalam menyelesaikan segala permasalahan dalam hidupnya. Selain itu, ada beberapa fungsi fiksi menurut Muhardi dan Hasanuddin (1992:12) yaitu:

  1. Menumbuhkan nilai-nilai praktis, menambah nilai-nilai normatif dan nilai-nilai estetis. Nilai-nilai praktis dalam fiksi berdasarkan permasalahan realitas objektif yang dijadikan titik utama penceritaan. Nilai-nilai normatif dan estetis yang terkandung dalam fiksi berdasarkan hasil penalaran dan kematangan intelektual dan visi pengarang.

  2. Media untuk mengajak pikiran kreatif, kepekaan rasa, kemapanan visi, kebijakan, serta kearifan pengarang kepada pembacanya. Fiksi juga menjadi media transformasi pemikiran budaya yang sebenarnya memuat nilai-nilai normatif dan estetis dalam lingkungan budaya tertentu. Fiksi ini bukan hanya sekadar ekspresi budaya, namun sekaligus menjadi alat pengendali budaya. Secara praktis fiksi ialah alat pendidikan peradaban dan kebudayaan. Fiksi sebagai alat pematang emosional dan pengasah rasional.

  3. Fiksi pada dasarnya merangsang pembaca untuk mengetahui, menghayati, menganalisis, dan merumuskan nilal-nilai kemanusiaan. Secara pelan namun pasti nilai-nilai itu menjadi terjaga dan tumbuh dalam diri pembaca. Selanjutnya nilai-nilai itu menjadi motivasi dan stabilisasi kepribadian dan perilakunya atau pembaca.

Selain dari fungsi tersebut, fungsi fiksi juga bisa dihubungkan dengan fungsi sastra secara umum yakni fungsi rekreatif dan fungsi didaktif. Dengan membaca suatu karya sastra, seseorang bisa memperoleh kesenangan dan hiburan, yakni dapat mengembara, berekreasi, dan mendapatkan suguhan kisah dan imajinasi pengarang mengenai berbagai kehidupan manusia. Pembaca akan terhibur, puas, dan mendapatkan pengalaman batin tentang tafsir hidup serta kehidupan manusia yang disajikan pengarang.

Jenis-jenis Fiksi

Fiksi merupakan suatu karya dimana memiliki beberapa jenis, berikut adalah beberapa jenis-jenis fiksi:

  1. Berdasarkan “Teori Pengkajian Fiksi”, Fiksi terdiri atas:

    • Fiksi Historis

Yaitu fiksi yang menjadi penulisan fakta sejarah. Untuk fiksi jenis ini, data-data seperti latar atau tempat, beberapa tokoh dan elemen fiksi yang lain memiliki beberapa kesamaan dengan kenyataan sejarah yang ada. Jadi, terkadang fiksi jenis historis ini menjadi alternatif sumber sejarah, meskipun tidak dapat diyakini 100%. Contoh fiksi historis: Arok Dedes karya Alm. Pramudya Ananta Toer, Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya.

    • Fiksi Biografis

Yaitu fiksi yang menjadi pedoman penulisan fakta biografis. Fiksi jenis ini bisa dalam bentuk biografi murni namun ada juga yang berupa otobiografi. Contoh fiksi biografis: Amien Rais, Bung Tomo, dll.

    • Fiksi Sains

Yaitu fiksi yang menjadi pedoman penulisan ilmu pengetahuan. Contoh fiksi sains: Supernova karya Dewi Lestari, The Mumy Legend.

  1. Berdasarkan buku “Perkenalan dengan Prosa Fiksi”, Fiksi terdiri atas:
    • Cerpen, novel, dan novela (formal)
    • Alegori (berdasarkan sudut pandang tertentu)
    • Fiksi Sains (berdasarkan isi)
    • Fiksi Eksistensialis (nerdasarkan tema)
    • Novel Romantis; Realis atau Eksistensialis

Sifat

  • Segala sesuatu yang dituangkan dalan fiksi tidak bisa dibuktikan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari, kerana suatu hasil rekaan.
  • Semua tokoh, setting dan pokok permasalahan ialah realitas imajinatif bukan obyektif.
  • Kebenaran yang ada di dalam fiksi ialah bukan kebenaran obyektif namun kebenaran logis dimana kebenaran yang ada dalam penalaran.
  • Manusia atau tokoh yang hidup dalam kehidupan sehari-hari yang terlibat dalam seluruh kehidupan penokohan fiksi dapat mempengaruhi dan membentuk sifat dan sikap pembaca atau
  • Kebenaran logis karya fiksi mengakibatkan setiap fiksi selalu multi interpretable, artinya setiap pembaca bisa memiliki tafsiran yang berbeda.

Unsur

Berikut ini adalah beberapa unsur-unsur fiksi, diantaranya ialah:

  1. Tema, yaitu suatu pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema ini biasanya diangkat dari konflik kehidupan.

  2. Plot, yaitu dasar cerita dan pengembangan cerita.

  3. Alur, yaitu rangkaian cerita dimana terbagi menjadi 3 yakni Proses alur maju; alur mundur, atau maju mundur. Penyelesaian Alur ini ada alur klimaks dan ada alur anti klimaks.

  4. Setting, Merupakan tempat terjadinya cerita dimana terbagi menjadi 2 yakni setting geografis atau tempat di mana kejadian berlangsung dan setting antropologis yakni kejadian berhubungan dengan situasi masyarakat, kejiwaan pola pikir maupun adat-istiadat.

  5. Penokohan / Pewatakan, dimana tokoh ialah dapat digambarkan sebagai tokoh utama (protagonis), tokoh yang jahat (antagonis), dan tokoh atau pemeran pembantu yang membantu jalannya cerita. Penghadiran tokoh dapat langsung dengan cara melakukan deskripsi, menggambarkan pribadi tokoh; atau secara tidak langsung yaitu dengan cara dialog antar tokoh.

Bidang tokoh yang harus digambarkan :

    • Bidang tampak ialah gesture, mimik, pakaian, ekspresi, dan sebagainya
    • Bidang yang tidak tampak ialah seperti motif berupa dorongan atau keinginan, psikis atau perubahan kejiwaan, perasaan, dan religiusitas.
  1. Sudut pandang, merupakan yang mendasari tema dan tujuan penulisan. Penghadiran sudut pandang ini bisa dengan :

Gaya orang pertama dimana penulis terlibat sebagai salah satu tokoh.

Gaya orang ketiga dimana penulis serba tahu apa yang terjadi dalam cerita namun tidak terlibat di dalam cerita.

  1. Suasana, merupakan yang mendasari suasana cerita bisa seperti penokohan karena perbedaan karakter sehingga memunculkan Dengan konflik tersebut pengarang berhadapan dengan suasana menyedihkan, mengharukan, menyenangkan, atau memberi inspirasi.

Ke tujuh unsur tersebut harus dihadirkan secara utuh sehingga fiksi baik berupa cerpen, novel, drama atau sinetron menimbulkan pembaca, memiliki daya imajinatif; mempunyai tafsiran tentang tokoh, suasana dan sebagainya.

Jenis Pengalaman Dalam Fiksi

  • Prosa Fiksi Relaistik yaitu dari pengalaman yang bersifat faktual dalam perilaku manusia.
  • Prosa Fiksi Romantik yaitu masalah emosi pribadi dan desakan dari luar.
  • Prosa Fiksi Naturalis yaitu Proletarian atau gambaran fakta-fakta keji, kurang dapat diterima secara moral dan akal sehat.
  • Prosa fiksi Gotik yaitu cerita horor atau fakta yang memancing dan melahirkan mimpi yang menakutkan
  • Alegori, simbolisme dan ekspresionisme dimana fakta-faktanya dalam hubungan dengan struktur kekuatan dunia luar; seperti : tatanan moral.
  • Fiksi sains dan utopian menggambarkan kecenderungan tatanan material dengan menggambarkan sesuatu sedemikian rupa sehingga hal tersebut tampak benar terjadi.
  • Satire, suatu pertentangan antara manusia yang tampak secara fisik dengan kekuasaan yang ada dibaliknya.
  • Fiksi psikologis dan arus kesadaran, otobiografis atau bildungsroman mengutamakan perkembangan kehidupan batiniah individual, yaitu perasaan dan pikiran.
  • Eksistensialis, menggambarkan kekuatan dibalik fakta yang tak dapat diterima, bahkan tak pernah terjadi.

Rujukan

Dina Ramadhanti. 2016. Buku Ajar Apresiasi Prosa Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.

Lihat juga

Kata kata bijak islam bagian IKata kata Mutiara
Keistimewaan PerempuanKata bijak islami III (apa yang kau cari)

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *