Fosil

Dipublikasikan oleh admin pada

Apa Itu Fosil? Sebagian besar fosil yang ditemukan dapat berumur paling muda 10.000 tahun, dan paling tua 3,5 miliar tahun. Fosil juga bisa sebesar Seismosaurus, dan bisa juga sekecil amoeba. Fosil dapat berupa mamut beku Siberia yang ditemukan lengkap dengan rambutnya, atau bisa juga hanya berupa jejak. Fosil dapat berisi material dari organisme aslinya, atau tidak berisi sama sekali.

Pengertian Fosil

Fosil adalah sisa-sisa atau bukti kehidupan yang terjadi waktu geologi sebelumnya / purba. Pada dasarnya semua fosil yang ada memberi kita petunjuk tentang dunia masa lalu atau lampau.

Dengan adanya fosil, kita tahu bahwa ada berbagai bentuk kehidupan telah menduduki planet ini. Fosil menggambarkan kita bahwa kehidupan telah berkembang dari waktu ke waktu. Fosil telah berkontribusi dalam penyusunan skala waktu geologi.

Jenis Fosil

Pada dasarnya ada dua jenis umum fosil, yaitu Fosil tubuh / body fossils dan fosil jejak / trace fossils.

  1. Fosil tubuh / body fossils

Beberapa ahli paleontologi mengartikan fosil tubuh atau body fossils sebagai fosil-fosil yang terdiri dari sisa-sisa material organisme aslinya, seperti; cangkang, tulang, dan gigi. Dimana tulang sebagai bagian keras dan jaringan organik sebagai bagian lunak. Mereka juga mendefinisikan hewan tanpa tulang sebagai organisme bertubuh lunak. Istilah-istilah ini adalah cara yang berguna untuk membedakan tulang dan jaringan hewan.

  1. Fosil jejak / trace fossils

Banyak ahli paleontologi mengartikan sebagai fosil-fosil yang terbentuk dari aktivitas atau perilaku organisme pada jaman dahulu, misalnya jejak, jalur, liang, pengerekan, sarang, dan koprolit (fosil kotoran).

Setiap sisa-sisa organisme serta segala macam jalur atau jejak, bahkan apabila ahli paleontologi tidak bisa mengidentifikasinya sebagai tanaman atau aktivitas hewan, akan memenuhi syarat sebagai fosil apabila itu dibentuk oleh suatu bentuk kehidupan dari waktu geologi sebelumnya.

Pada dasarnya fosil berumur sangat tua, jutaan atau bahkan kadang lebih dari satu miliar tahun, tetapi secara teknis setiap sisa-sisa atau bukti kehidupan yang berumur lebih dari sekitar 10.000 tahun adalah fosil.

Namun ada hal yang jauh lebih penting yaitu bagaimana cara objek tersebut dipelajari. Tidak peduli tingkat umur sebuah objek, apabila dipelajari dengan cara yang sama sebagai fosil yang berumur tua, dan dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari batuan, maka sering dianggap sebagai fosil.

Maka dari itu, karena jasad beku manusia es yang ditemukan beberapa tahun lalu di Pegunungan Alpen dipelajari dengan menggunakan metode biologi dan antropologi, sebagian besar ahli paleontologi tidak menjadikan manusia es tersebut sebagai fosil.

Ada juga seorang ahli paleontologi yang tertarik menafsirkan interaksi antara organisme dan lingkungan tempat tinggal mereka. Bisa jadi dengan mempelajari cangkang modern sebagai fosil, bahkan apabilasuatu organisme mati hanya beberapa hari yang lalu. Subfossil merupakan istilah yang terkadang digunakan untuk sisa-sisa organisme yang baru saja mati apabila ingin dipelajari seolah-olah sebagai fosil.

Makhluk Hidup / Organisme yang Terfosilkan Fosil Invertebrata

Sejauh ini sebagian besar ahli paleontologi adalah mereka yang mempelajari fosil invertebrata atau fosil organisme yang tidak memiliki tulang belakang. Mengapa? hal ini dikarenakan jenis-jenis fosil invertebrata yang sangat banyak dan terawetkan dengan baik di berbagai jenis batuan, berasal dari berbagai jenis organisme, sebagian besar hidup dalam rentang waktu geologi yang panjang; serta karena jenis fosil ini sering terawetkan secara keseluruhan (bukan sebagai fragmen).

  • Fosil Vertebrata

Fosil hewan yang memiliki tulang belakang, misalnya ikan, amfibi, berbagai jenis reptil, burung, serta mamalia ialah contoh dari fosil vertebrata. Tulang serta gigi organisme jenis ini ialah bagian terkeras dari beberapa bagian tubuh lainnya, maka dengan demikian bagian tersebut cenderung tahan terhadap erosi, sehingga fosil vertebrata seringnya ditemukan hanya berupa tulang belulang atau gigi-gigi nya saja. Seorang ahli paleontologi vertebrata akan mendapatkan informasi yang lebih banyak dari kerangka yang terawetkan secara utuh dibandingkan dari tulangb elulang atau gigi-gigi yang terpisah.

  • Fosil Mikro

Beberapa ahli paleontologi menggunakan mikroskop untuk mempelajari segala jenis fosil, bahkan tulang-tulang dinosaurus raksasa yang mungkin berukuran sangat besar dan memiliki berat puluhan kilogram. Sebuah mikrofosil ialah salah satu yang bisa dipelajari dengan mikroskop karena ukurannya yang sangat kecil.

Ahli yang mempelajari fosil mikro disebut micropaleontologists, dan sebagian besar dari mereka bekerja untuk perusahaan minyak karena fosil mikro bermanfaat untuk menentukan usia batuan, serta cenderung menjadi satu-satunya jenis fosil yang menjadi alasan ketika sumur minyak dibor.

Bakteri yang diawetkan sebagai fosil jauh lebih banyak di bandingkan dengan yang diharapkan. Hal ini mungkin karena bakteri begitu berlimpah, keras dan karena mereka bisa mengubah lingkungan mereka dengan cara yang signifikan. Studi atau ilmu tentang interaksi bakteri dengan batuan disebut dengan geobiologi yaitu salah satu bagian dari ilmu geologi yang menjanjikan dan sedang berkembang pesat saat ini.

  • Fosil Tanaman

Sebagian besar jenis-jenis tanaman tidak memiliki cangkang satu pun seperti yang dimiliki oleh hewan, meskipun beberapa jenis rumput mempunyai butiran oval kecil yang terkadang dapat merusak gigi hewan pemakan rumput. Kemungkinan tanaman terfosilkan sangatlah tipis, tetapi jika berada pada kondisi yang tepat, sebuah tanaman bisa terfosilkan. Ukuran batang pohon dan kelimpahan daun sangat berkontribusi terhadap kelimpahan catatan fosil tanaman.

Batang pohon yang berukuran besar dapat memfosil sebelum membusuk tidak berbeda dengan halnya daun, apabila terakumulasi dalam jumlah banyak dalam satu lingkungan, daun-daun tersebut bisa mengubah lingkungan sehingga bisa meningkatkan kemungkinan fosilisasi mereka.

Ada fakta yang mengejutkan dimana bahwa meskipun organisme vertebrata serta tanaman saling ketergantungan dalam banyak hal, tetapi merupakan hal yang sedikit tidak lazim apabila menemukan kedua fosil vertebrata dan tanaman terawetkan bersama pada jenis batuan yang sama. Kondisi yang dibutuhkan untuk fosilisasi keduanya cukup berbeda, maka dari itu tidak mungkin jika terjadi bersamaan. Meskipun kita tahu bahwa mereka umumnya tinggal bersama, di tempat yang sama.

  • Palynomorphs

Palynomorphs mempelajari apa pun yang memiliki ukuran kecil sebagai spora atau butiran serbuk sari yang terfosil pada batuan dalam jangka waktu geologi yang lama. Para ahli paleontologi membedakan antara fosil serbuk sari dari “fosil tanaman” meskipun keduanya masih merupakan satu bagian. Berbagai macam tanaman memiliki berbagai jenis spora dan serbuk sari yang bisa dibedakan dengan mempelajarinya dibawah mikroskop.

Proses Terbentuknya Fosil

Ahli paleontologi yang ingin tahu lebih banyak tentang fosil dan muncul pertanyaan tentang bagaimana fosil terbentuk. Harus diingat bahwa fosil adalah sisa-sisa atau bukti kehidupan dari waktu geologi sebelumnya. Jadi fosil bukan terbentuk melainkan merupakan sisa kehidupan yang dapat menjadi bukti bahwa ada kehidupan sebelumnya.

Fosil terbentuk melalui proses penghancuran peninggalan organisme yang pernah hidup. Hal ini sering terjadi saat tumbuhan atau hewan terkubur dalam lingkungan yang bebas dari oksigen. Fosil yang ada saat ini jarang dipertahankan dalam bentuk aslinya. Dalam banyak kasus, mineral atau perubahan kimia sisa-sisa dilarutkan hingga semua di ubah dengan membuat cetakan.

  • Permineralisasi

Ketika air tanah masuk ke dalam fosil berpori, maka air akan mengendapkan material mineral ke dalam pori-pori. Proses ini disebut dengan permineralization. Material endapan ini dapat berkomposisi sama seperti tulang yang ditempatinya, atau bisa sangat berbeda.

  • Petrifikasi

Petrifikasi merupakan proses dimana bagain lunak dari objek terubah dengan mineral, Misalnya mineral silika dalam bentuk mikrokristalin kuarsa, kalsit atau kadang-kadang apatit. Contoh fosil yang terbentuk dengan petrifikasi ini ialah fosil kayu / petrified wood – kayu yang membatu.

  • Rekristalisasi

Rekristalisasi merupakan proses fosilisasi dimana satu jenis mineral mengkristal ke berbagai jenis mineral lainnya. Misalnya pada cangkang yang tersusun dari mineral aragonit. Dalam proses fosilisasinya, mineral tersebut merekristalisasikan mineral kalsit.

  • Casts dan Molds

Cast dan mold ialah bentuk tiga dimensi dari hasil pengawetan suatu organisme. Proses fosilisasi ini berawal ketika suatu cangkang atau kerangka organisme terperangkap dalam batuan sedimen. Sebagian besar dari kerangka ini merupakan dari zat-zat yang gampang larut dalam air berkarbonasi. Biasanya proses fosilisasi ini terjadi pada batuan yang berpori, misalnya batu pasir.

  • Mumi

Banyak ahli paleontologi berpendapat bahwa mumi terbentuk karena proses pengeringan yang cepat sebelum jasad mumi tersebut membusuk. Proses fosilisasi ini sangat jarang ditemukan, dan terjadi pada daerah dengan kondisi yang sangat kering.

  • Frozen Mammoth

Pembekuan ialah jenis khusus dari proses mumifikasi. Dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan melakukan penelitian untuk menghasilkan mammonth hidup dengan cara mengumpulkan DNA mammoth beku dan menggabungkannya dengan DNA gajah.

  • Fosil Amber

Amber merupakan fosil getah pohon. Berbagai jenis pohon, apabila kulit atau batangnya terkupas, pohon tersebut akan mengeluarkan cairan getah. Mekanisme inilah yang membuat serangga terperangkap dalam getah.

Tempat Penemuan Fosil

Sebagian besar fosil ditemukan dalam batuan sedimen atau endapan yang terkena permukaan. Batuan yang mengandung banyak fosil tersebut disebut dengan fosiliferus. Ketika fosil yang ada dalam batuan tergantung pada jenis lingkungan di mana sedimen ilmiah tersimpan. Sedimen laut, garis pantai maupun laut dangkal, biasanya mengandung banyak fosil.

Syarat Terbentuknya Fosil

Fosilisasi ialah sebuah proses akumulasi sisa-sisa tanaman atau hewan yang menumpuk di sedimen atau endapan, baik menjalani konservasi secara menyeluruh, atau sebagian jejaknya saja. Ada beberapa kriteria atau yang dapat di anggap syarat pemfosilan diantaranya ialah:

  1. Umur fosil lebih dari 10.000 tahun yang lalu.
  2. Organisme mempunyai bagian tubuh yang sulit.
  3. Mengalami pelestarian.
  4. Terjadi secara alami.
  5. Didalamnya mengandung kadar oksigen dalam jumlah kecil.
  6. Bebas dari bakteri pembusuk.

Pemanfaatan Fosil

Apa manfaat fosil dan bagaimana pemanfaatannya? Fosil sangat penting untuk bisa memahami sejarah batuan sedimen bumi. Sebagian waktu geologi dan kompatibilitas dengan lapisan batuan tergantung pada perubahan fosil. Organisme yang sesuai dengan waktu dan perubahan ini digunakan untuk menandai periode waktu. Misalnya, jenis batuan yang mengandung fosil graptolit harus pada waktu di era Paleozoic. Distribusi geografis fosil memungkinkan ahli geologi untuk menyesuaikan komposisi batuan dari bagian lain dunia.

Kategori: pendidikan

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *