Yuk Pahami Tentang Bagaimana Hukum Bercerai Saat Hamil

Published by admin on

Ketika menjalankan suatu pernikahan, pastinya setiap orang akan selalu mengharapkan adanya momen kebahagian dan kebaikan yang dilakukan bersama. Bahkan siapapun tidak pernah mengharapkan adanya suatu perceraian. Namun permasalahan menjadikan sepasang suami istri memilih jalan perceraian. Lalu bagaimana hukum bercerai saat hamil?

Hukum Bercerai Saat Hamil dalam Agama Islam

Jika mempelajari tentang syariat islam, maka anda akan menemukan bahwa talak atau perceraian dibagi menjadi 2 jenis yaitu talak Sunni dan Talak Bid’i. Talak Sunni diartikan sebagai suatu talak yang dilakukan sesuai dengan aturan atau prosedur yang berlaku dalam agama. Sedangkan Talak Bid’i adalah talak yang tidak sesuai dengan prosedur syariat

Seorang ulama yang bernama Syekh Prof. Khalid Al Musyaiqih menyatakan bahwa menceraikan wanita selama kehamilan merupakan bukan bagian dari perceraian Bid’i. Pernyataan tersebut telah didasarkan kepada hadits dimana Rasulullah SAW menyampaikan kepada Abdullah bin Umar saat Abdullah memutuskan untuk menceraikan Istrinya

Dalam hadist tersebut dikatakan bahwa Rasulullah meminta Abdullah bin Umar rujuk kembali kepada istri yang diceraikannya. Tetaplah bersamanya sampai selesai masa haid, lalu haid lagi kemudian suci lagi. Setelah itu, jika masih berkeinginan untuk menceraikan istrinya bisa dilakukan saat istri berada pada masa suci dan belum digauli

Namun, banyak juga ditemukan para ulama yang sepakat bahwa diperbolehkan untuk menceraikan seorang wanita meskipun dalam kondisi hamil. Keyakinan umum bahwa wanita hamil tidak diceraikan secara sah adalah kesalahpahaman menurut Konsultasi Syariah. Bahkan dijelaskan bahwa bercerai saat hamil disebut sunni jika terjadi dalam dua kondisi

Kondisi yang pertama yaitu ketika wanita itu hamil dan ketika dia dalam keadaan suci sebelum melakukan hubungan seksual atau tidak selama menstruasi dan setelah melahirkan. Bukti yang mendasari hal ini adalah firman Allah yang tertinggi. Jika kamu menceraikan istrimu, hendaklah kamu menceraikan mereka ketika mereka dapat menghadapi idahnya” (QS. At-Thalaq: 1). 

Allah SWT memerintahkan agar perceraian dilakukan ketika wanita dalam masa Iddah dengan alasan perceraian benar-benar pilihan yang tepat karena pertimbangan yang kuat. Hamil merupakan salah satu masa iddah bagi wanita yang diceraikan dan diakhiri dengan melahirkannya wanita tersebut. Dengan begitu, menceraikan seorang wanita hamil adalah Talak Sunni. 

Seorang Syekh bernama Ibnu Baz Rahimahullah menyampaikan bahwa makna dari QS. Al-Thalaq ayat 1 adalah anjuran untuk menceraikan istri saat sedang suci dan belum disetubuhi. Itulah yang dimaksudkan dengan menceraikan istri dalam masa iddah yaitu ketika sedang suci belum disetubuhi atau menceraikannya saat keadaan mengandung

Sedangkan yang dikatakan talak disebut talak bid’i yaitu ketika sedang berada di 4 kondisi yaitu saat perempuan haid, saat nifas, saat suci namun setelah disetubuhi dan talak tiga yang dilakukan sekaligus. Jadi dapat disimpulkan bahwa menceraikan istri dalam keadaan hamil dan dirasa merupakan keputusan terbaik yang harus diambil maka hukumnya sah

Hukum Cerai Saat Hamil Dalam Hukum Negara

Kutipan UU tentang perkawinan berbunyi “untuk melakukan perceraian harus ada  cukup alasan antara suami istri itu tidak akan hidup rukun sebagai suami dan istri”. Tentang hal apa saja yang valid untuk dijadikan sebagai alasan perceraian telah tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 39 ayat 2 dan Peraturan Pemerintah Pasal 19 No. 9 Tahun 1975

Dalam peraturan pemerintahan tersebut terdapat pembahasan terkait pelaksanaan UU Perkawinan yang terurai dengan berbagai alasan perceraian diantaranya yang pertama adalah salah satu pihak melakukan perzinahan, menjadi peminum, pemadat, penjudi dan segala yang sulit diobati. Alasan kedua yaitu salah satu pihak meninggalkan pasangan selama 2 tahun

Alasan tersebut akan valid jika pasangan yang meninggalkan tidak pernah melakukan izin terhadap pihak yang lain dengan alasan yang jelas dan diluar kemauannya. Alasan ketiga yaitu salah satu pihak akan divonis lima tahun penjara atau lebih setelah menikah. Selanjutnya Jika satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan serius yang merugikan pihak lain 

Alasan berikutnya, salah satu pihak menderita cacat atau sakit sehingga tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami atau istri. Dan yang menjadi alasan terakhir adalah Ada pertengkaran dan perdebatan terus-menerus di antara pasangan dan tidak ada harapan untuk hidup berdampingan secara damai di rumah dalam jangka waktu yang lebih lama lagi

Mengingat kedudukan seorang istri yang menceraikan selama hamil dan sebenarnya dirugikan ketika suaminya berzina, maka istri mempunyai alasan untuk mengajukan gugatan cerai. Selain itu, anda juga tidak akan menemukan dalam isi Undang-Undang Perkawinan, Peraturan pemerintah 9/1975, maupun hadits yang mengatur larangan bercerai saat hamil

Berdasarkan aturan yang dianut oleh masyarakat indonesia dengan dasar Undang-Undang menyatakan bahwa tidak ada larangan untuk menceraikan istri saat sedang dalam kondisi hamil. Begitu pun dengan aturan dalam agama Islam. Alasan sebuah perceraian bisa dilakukan dengan alasan bahwa diantara keduanya tidak bisa hidup rukun bersama di rumah

Categories: pendidikan

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *