Kata kata bijak islami III -Apa Yang Kau Cari

Dipublikasikan oleh admin pada

Renungan Indah W.S. Rendra

“Membesarnya kenikmatan Allah bagi seseorang  adalah bertambah banyaknya kebutuhan orang kepadanya (banyak yang dibutuhkan orang), Tetapi barang siapa enggan memenuhi kebutuhan – kebutuhan orang –orang itu maka ia telah membiarkan kenikmatan itu pergi”

(HR Baihaqi)

Sering kali aku berkata…

Ketika semua orang memuji milik-ku…

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, … mengapa aku tak pernah bertanya,

Mengapa Dia menitipkannya kepadaku?

Untuk apa Ia menitipkan ini kepadaku?

Dan, kalu bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah.

Kusebut itu sebagai ujian…

Kusebut itu sebagai petaka..

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,

Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “deria” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih_Nya harus berjalan seperti matematika.

Aku rajin beribadah,

Maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,

Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,

Dan bukan kasih,

Kuminta Dia membalas “Perlakuan baikku”,

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Ya Allah…

Padahal, tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah. “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja…”

Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas tempat tidur (RS)

Hikmah

  1. “Kalimat laa hawla wa laa quwwata illa billaah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allalh Ta’ala. Hamba tidak bisa berbuat apa apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu, selain kekuatan dari Allah swt.
  2. Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut, “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk meraih kebaikan, selain dengan kuasa Allah”

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *