Pertumbuhan Ekonomi

Dipublikasikan oleh admin pada

Indikator Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Menurut Prof Rahardjo Addisasmita dalam bukunya, terdapat beberapa indikator  yang dapat dijadikan sebagai indikator atau sebagai tolak ukur untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, diantaranya, ketidaksemimbangan pendapatan, perubahan struktur perekonomian, dan Produk domestik regional bruto

  1. Ketidakseimbangan Pendapatan

Dalam kondisi yang ideal, dimana pendapatan dengan mutlak didistribusikan secara adil, 80% populasi terbawah akan menerima sebanyak 80 persen dari total pendaptan, sementara 20% populasi teratas menerima 20 persen dari total pendapatan

Menurut PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa), susunan pengelompokan penduduk, dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu 40% populasi terendah, 40% untuk populasi sedang dan sisanya 20% untuk populasi teratas.

Indikator ketidakseimbangan pendapatan dapat diterapkan untuk menilai suatu keberhasilan pembangunan ekonomi pada suatu wilayah.

  1. Perubahan struktur prekonomian

Pada masyarakat yang sudah maju, pembangunan ekonomi yang dilaksanakan akan berdapak pada perubahan struktur perekonomian, dimana terjadi kecendrungan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB akan menurun, sementara kontribusi sektor industri akan meningkat.

Sektor industri memegang peranan penting dalam pembangunan nasional maupun regional, sektor industri juga dapat menyediakan lapangan kerja yang luas, memberikan peningkatan pendapatan pada masyarakat, menghasilkan devisa, yang dihasilkan melalui ekspor. Dengan demikian, perekonomian suatu wilayah harus diorientasikan selain sektor pertanian, akan tetapi harus pula diorientasikan pada sektor industri.

  1. Produk domestik regional bruto

Salah satu indikator penting dalam pembangunan ekonomi regional adalah konsep produk domestik regional bruto (PDRB). PDRB merupakan tolak ukur sebagai keberhasilan ekonomi dari seluruh kegiatan ekonomi .

Menuru BPS (Badan Pusat Statistik) perhitungan PDRB dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu, pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran.

Pendekatan produksi

Menurut pendekatan ini, jumlah barang dan jasa dihasilkan melalui berbagai unit produksi suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (umumnya satu tahun). Unit –unit produksi tersebut dalam penyajiannya dibagi menjadi sembilan sektor.

      1. Sektor pertanian
      2. Sektor pertambangan dan penggalian
      3. Sektor industri pengolahan
      4. Listrik, gas, dan air bersih
      5. Bangunan dan konstruksi
      6. Perdagangan, hotel, dan restoran
      7.  komunikasi
      8. Jasa keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan
      9. Jasa jasa lainnya

Faktor Pengeluaran

Adalah akumulasi seluruh komponen permintaan akhir yang meliputi:

  1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untuk (profit)
  2. Konsumsi pemerintah
  3. Pembentukan modal tetap domestik bruto (investasi) dalam jangka waktu tertentu (biasanya ditetapkan dalam satu tahun)
  4. Pembentukan stok
  5. Ekspor netto (ekspor dikurangi impor)

Pendekatan pendapatan

Merupakan pendekatan yang mana jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor yang ikut serta dalam proses produksi pada suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (umunya satu tahun). Bala jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal, dan keuntungan. Perhitungan tersebut sebelum di potong pajak penghasilan dan pajak tidak langsung lainnya.

Kategori: pendidikan

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *