Resiko

Dipublikasikan oleh admin pada

Proses Manajemen Risiko

Seperti dijejalskan diatas, resiko beragam jenisnya dan terdapat dimana-mana,  bisa datang kapan saja tanpa diketahui, dan sulit untuk dihindari. Bila risiko tersebut menimpa suatu organisasi, maka organisasi tersebut dapat mengalami kerugian yang cukup besar. Dalam beberapa situasi, risiko tersebut dapat mendatangkan kehancuran terhadap organisasi tersebut. Karenanya risiko perlu dikelola.

Salah satu fungsi dari manajemen resiko adalah untuk mengelola risiko baik yang  akan maupun sudah terjadi.  Perusahaan seringkali dengan senagaja mengambil suatu risiko tertentu, karena dibalik risiko tersebut terdapat potensi keuntungan.

Manajemen resiko pada umumnya dilakukan melalui proses, seperti dibawah ini:

  1. Identifikasi
  2. Evaluasi dan pengukuran
  3. Pengelolaan

Identifikasi risiko

Proses ini dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan resiko – risiko apa saja yang dihadapi suatu organisasi. Beragam jenis risiko yang dihadapi suatu organisasi mulai dari risiko penyelewengan oleh karyawan, kejatuhan meteor atau komet, dan resiko lainnya.

Terdapat beberapa cara dalam proses mengidentifikasi risiko, misalnya dengan cara menelusuri sumber resiko hingga terjadinya peristiwa yang tidak di inginkan. Misalnya  terjadi kebakaran, kebakaran merupakan peristiwa yang merugikan. Identifikasi dapat dilakukan dengan melihat sumber dari resiko hingga sampai terjadinya peristiwa yang merugikan.

Pada beberapa situasi risiko yang dihadapi perusahaan cukup standar, misalnya, bank menghadapi risiko utamanya adalah risiko kredit (kemungkinan debitur tidak melunasi hutangnya).  Untuk bank yang juga aktif dibidang perdagangan sekuritas, maka bank tersebut  akan mengalami resiko pasar. Setiap bisnis akan mengalami risiko yang berbeda beda karakteristiknya.

Evaluasi dan pengukuran resiko

Tahap selanjutnya adalah mengukur tingkat risiko dan mengevaluasi risiko tersebut. Tujuannya adalah untuk memahami karakteristik resiko dengan lebih baik. Bila kita memperoleh pemahaman yang lebih baik, maka risiko akan lebih mudah dikendalikan.

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengukur suatu risiko bergantung dari jenis resiko tersebut. Misalnya kita memperkirakan probabilitas (kemungkinan) risiko atau suatu kejadian yang jelek.  Dengan probabilitas tersebut, kita berusaha mengukur risiko tersebut.

Misalnya, terdapat resiko perusahaan terkena jatuhan meteor atau komet, akan tetapi probabilitas risiko seperti ini sangat kecil, karenanya risiko seperti tidak perlu diperhatikan.

Contoh lainnya adalah kebakaran dengan tingkat probabilitas misalnya, 0,6. Karena probabilitas yang tinggi, maka resiko kebakaran perlu diberi perhatian lebih. Dari kedua contoh tersebut menunjukkan dengan menggunakan probabilitas kita dapat melakukan perioritas resiko, sehingga dengan demikian kita dapat memfokuskan diri pada resiko yang mempunyai kemungkinan yang lebih besar terjadi.

Contoh lainnya adalah membuat matriks dengan sumbu mendatar adalah probabilitas terjadinya risiko, dan sumbu vertikal adalah tingkat keseriusan konsekuensi resiko tersebut. Setiap risiko dapat dievaluasi kemudian dimasukkan kedalam matriks tersebut. Sebagai contoh, resiko kebakaran memiliki probabilitas 0,6 (kategori tinggi).

Bila kebakaran terjadi, maka kerugian yang diakibatkan akan semakin tinggi. Dengan demikian risiko kebakaran akan ditempatkan pada kuadran probabilitas tinggi dan severity tinggi. Langkah selanjutnya adalah merumuskannya. Sebagai contoh, untuk risiko kebakaran seperti itu, langkah yang lebih efektif dapat ditujukan untuk menangani risiko kebakaran tersebut.

Untuk resiko lain, evaluasi dan pengukuran yang berbeda dapat dilakukan. Misalnya, risiko perubahan tingkat bunga dapat diukur melalui teknik duration (durasi). Risiko pasar dapat dievaluasi dengan menggunakan teknik VAR (Value At Risk). Pemahaman kita terhadap beberapa risiko sudah cukup baik, dengan demikian teknik pengukuran risiko tersebut sudah berkembang.

Teknik lain untuk mengukur tingkat risiko adalah dengan cara evaluasi dampak resiko terhadap kinerja perusahaan.

Pengelolaan resiko

Setelah proses analisis dan evaluasi dilakukan, tahap berikutnya adalah mengelola risiko tersebut. Bila suatu organiasi gagal dalam mengelola suatu risiko, maka konsekuensinya adalah cukup serius, misalnya kerugian besar. Risiko dapat dikelola dengan berbagai cara, misalnya penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, atau ditransfer ke pihak lain. Erat kaitannya dengan manajemen resiko (risk control), dan pendanaan resiko (risk financing).

  • Merupakan cara yang mudan dan aman guna mengelola suatu risiko. Akan tetapi cara seperti ini barangkali tidak terlalu optimal. Misalnya bila kita ingin memperoleh tingkat keuntungan dari suatu bisnis, maka mau tidak mau harus keluar dan menghadapi risiko tersebut. Selanjutnya akan mengelola risiko tersebut.
  • Ditahan (retention), dalam kondisi tertentu, akan lebih baik bila kita menghadapi sendiri risiko tersebut (menahan risiko tersebut). Misalnya, seorang akan keluar dari rumah untuk membeli sesuatu di supermarket terdekat, dengan menggunakan kendaraan. Kendaraan tersebut tidak diasuransikan, dikarenakan orang tersebut mengganggap asurasni terlalu repot, mahal, dst, sementara dia akan mengendarai kendaraan tersebut dengan sangat hati hati. Dalam contoh tersebut, orang tersebut memutuskan untuk menanggung sendiri (menahan, retention) resiko kecelakaan.
  • Diversifikasi, merupakan suatu tindakan menyebar eksposur yang kita miliki sehingga terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja. Misalkan, barangkali kita akan memegang aset lebih dari satu. Tetapi pada aset tersebut, misalnya saham A, B, obligasi, C, properti dan sebagainya. Bila terjadi kerugian pada salah satu aset, kerugian tersebut diharapkan dapat dikompensasi dengan aset lainnnya,
  • Transfer resiko, bila kita tidak ingin menanggung risiko tertentu, maka kita dapat mentrasfernya pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Misalya dengan cara membeli asuransi kecelakaan. Bilamana terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan menanggung kerugian akibat dari kecelakaan tersebut.
  • Pengendalian resiko, pengendalian dimaksudkan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadin yang tidak diinginkan. Misalnya, untuk mencegah terjadinya kebakaran, kita memasang alarm asam di bangunan. Alarm tersebut merupakan salah satu cara untuk mengendalikan risiko kebakaran.
  • Pendanaan resiko, memiliki arti bagaimana mendanai kerugian yang terjadi bila suatu risiko terjadi. Misalnya, bila terjadi suatu kebakaran, bagaimana menanggung kerugian akibat kebakaran tersebut, apakah dari asuransi, atau menggunakan dana cadangan. Isu semacam ini masuk dalam wilayah pendanaan resiko


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *