Pertumbuhan Ekonomi

Dipublikasikan oleh admin pada

Teori Pertumbuhan Penduduk

Banyak pemikir ekonomi memberikan pendapat mengenai teori-teori pertumbuhan ekonomi. Berikut beberapa teori-teori mengenai pertumbuhan ekonomi:

  1. Teori pertumbuhan klasik

Teori ini dipelopori oleh Adam Smith, David Ricardo, Malthus, & John Stuart. Menurut mereka pertumbuhan suatu ekonomi dipengaruhi oleh 4 faktor yakni, jumlah penduduk, jumlah barang modal, luas tanah, & kekayaan alam serta teknologi yang digunakan.

Mereka menitikberatkan pada pengaruh  pertambahan jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan asumsi luas tanah & kekayaan alam serta teknologi tidak mengalami perubahan.

Teori ini menjelaskan tentang keterkaitan antara pendapatan perkapita dengan jumlah penduduk yang mereka sebut sebagai teori penduduk oftimal.

Menurut teori tersebut, pada awalnya pertumbuhan penduduk akan menyebabkan kenaikan perkapita,  akan tetapi jumlah penduduk secara terus menurus bertambah akan mempengaruhi fungsi produksi yakni produksi marginal akan mengalami penurunan, & angka akan membawa pada keadaan pendapatan perkapita sama dengan produksi marginal.

  1. Teori Pertumbuhan Harrod-Domar

Teori ini muncul hampir bersamaan dengan Roy F. Harrod (1984) di inggris dan Evsey D. Domar (1957) di AS. Teori  ini menggunakan proses perhitungan yang berbeda akan tetapi memberikan hasil yang sama, dengan demikian keduanya dianggap mengemukakan ide yang sama sehingga disebut sebagai teori Harrod – Domar.

Teori ini muncul sekaligus melengkapi teori keynes, dimana keynes melihatnya dalam jangka pendek (kondisi statis), sementara Harrod-Domard melihatnya sebagai jangka panjang (kondisi dinamis). Teori ini didasarkan dengan asumsi:

  • Prekonomian sifatnya tertutup
  • Keinginan untuk menabung (MPS = s ) adalah konstan
  • Proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constant return to scale)
  • Tingkat pertumbuhan angkat kerja adalah konstant dan sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk

Asumsi ini dimaksudkan agar prokonomian mencapai pertumbuhan yang kuat (steady growth) dalam jangka panjang. Asumsi yang dimaksud adalah kondisi dimana barang modal telah mencapai kapasitas penuh, tabungan memiliki profesional yang ideal dengan tingkat pendapatan nasional, rasio antara modal dengan produksi (Capital Output Ratio/COR) tetap prekonomian terdiri dua sektor (Y – C +1)

Atas dasar asumsi diatas, mereka membuat analisa dan kesimpulan bahwa pertumbuhan jangka panjang yang mantap (seluruh kenaikan produksi dapat diserap oleh pasar) hanya dapat terpenuhi bilaman syarat-syarat keseimbangan sebagai berikut:

g = K = n

ket:

g  = Growth (tingkat pertumbuhan output)

K  = Capital (tingkat pertumbuhan modal) dan

n  = Tingkat pertumbuhan angkatan kerja

Harrod dan Domar menyimpulkan atas teorinya berdasarkan pasar tanpa campur tangan pemerintah, akan tetapi pemerintah perlu merencanakan besarnya investasi agar terdapat keseimbangan dalam sisi penawaran dan permintaan barang.

  1. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik

Teori ini dikembangkan oleh Robert M. Solow pada tahun (1970) & T.W Swan (1956). Teori Solow – Swan mengasumsikan unsur pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi, & besarnya output yang saling berinteraksi.

Perbedaan mendasar dari teori ini dengan teori Harrod-Domar adalah dimasukkannya unsur kemajuan teknologi dalam modelnya. Selain itu, Solow-Swan juga menggunakan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya substitusi antara kapital (K) & tenaga kerja (L).

Dengan demikian, syarat-syarat terdapatnya pertumbuhan ekonomi yang baik pada teori Solow-Swan kurang restriktif dikarenakan kemungkinan substitusi antara tenaga kerja & modal. Hal ini memungkinkan adanya fleksibilitas dalam rasio modal-output dan rasio modal-tenaga kerja.

Teori Solow-Swan memandang mengenai mekanisme pasar dapat menciptakan keseimbangan, dengan demikian campur tangan pemerintah untuk mempengaruhi pasar tidak begitu diperlukan. Adapun campur tangan pemerintah hanya sebatas kebijakan fiskal dan moneter.

Tingkat pertumbuhan berasal dari 3  sumber yakni, akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja, dan peningkatan teknologi. Teknologi ini dapat dilihat dari peningkatan skill atau kemajuan teknik, sehingga produktivitas capital meningkat. Pada model ini, masalah teknologi dianggap sebagai fungsi dari waktu.

Teori neo-klasik merupakan penerus dari teori klasik menganjurkan agar kondisi selalu diarahkan untuk kemajuan pasar sempurna. Dalam keadaan pasar sempurna, prekonomian dapat tumbuh secara maksimal.

Sama halnya dengan teori model klasik, kebijakam yang perlu ditempuh adalah meniadakan hambatan dalam perdagangan, termasuk perpindahan orang, barang, dan modal. Kesemuanya harus dijamin kelancaran arus barang, modal, tenaga kerja, dan perlunya perluasan menganai informasi pasar.

Kategori: pendidikan

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *